Aceh, Ikm News.com – Sumatera. Ancaman penyakit kulit semakin mengintai ribuan pengungsi korban banjir di wilayah Aceh dan Sumatera. Kondisi pengungsian yang serba terbatas membuat higienitas sulit dijaga, terlebih dengan minimnya pasokan air bersih.
Dokter Idrianti, praktisi kesehatan yang menangani langsung para pengungsi, menegaskan bahwa pertolongan pertama untuk mencegah penyakit kulit adalah menjaga kebersihan tubuh serta memastikan kulit tetap kering. Namun menurutnya, dua hal mendasar tersebut hampir mustahil dilakukan tanpa ketersediaan air bersih.
“Higienitas itu nomor satu. Tapi bagaimana mau bersih kalau air bersihnya tidak ada? Ini yang harus segera dipenuhi,” tegas dr Idrianti.
Ia mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk menjadikan penyaluran air bersih dan sabun sebagai prioritas utama pemulihan pascabencana. Keduanya merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kondisi kesehatan para pengungsi.
Tidak hanya itu, dr Idrianti menyoroti kebutuhan pembalut untuk perempuan, yang menurutnya sering terabaikan dalam distribusi logistik. Kekurangan pembalut membuat sebagian perempuan terpaksa memakai produk yang sama berulang kali.
“Kalau pembalutnya dipakai terus-terus bisa jadi jamur di selangkangan. Atau infeksinya masuk ke vagina. Itu yang berbahaya,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa infeksi kulit hingga infeksi organ intim dapat menjadi serius apabila tidak mendapatkan penanganan cepat. Karena itu, pemerataan bantuan sanitasi khusus perempuan perlu menjadi perhatian.
Kondisi sanitasi yang minim di lokasi pengungsian berpotensi memicu penyakit kulit jamur, dermatitis, infeksi bakteri, hingga gangguan kesehatan reproduksi. Para ahli menilai bahwa kebutuhan higienitas tidak boleh berada di urutan belakang dalam penanganan bencana.

